Saturday, March 11, 2017

Islam dan Betawi


Tulisan ini adalah sebuah coretan iseng yang dilakukan oleh penulis, jika ada yang kurang pas dihati pembaca bisa kita sharing demi lebih baiknya tulisan ini. selamat membaca.



            Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT  kepada Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menjadi pedoman hidup seluruh manusia hingga akhir zaman. Secara harfiah islam berarti damai, maka dari itu islam merupakan agama yang mengedepankan kedamaian atau kebaikan bersama karena islam merupakan agama yang rahmatan lil-alamin yang berarti selalu memberikan kepada seluruh yang ada di bumi ini.
            Hadirnya islam di dunia ini sudah terjadi sebelum adanya manusia di bumi ini yaitu Nabi Adam AS, bentuk ketaatan beliau kepada Allah SWT merupakan wujud yang perlu di imani oleh umat islam tanpa di ubah dengan logika. Akan tetapi hadirnya Nabi Muhammad SAW di muka bumi ini sebagai akhir nabi dari 25 nabi yang dipercaya oleh umat islam tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad SAW.
            Hadirnya Nabi Muhammad SAW untuk menyempurnakan akhlak yang terjadi dimuka bumi ini melalui wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT kepada malaikat Jibril untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an merupakan kitab suci umat islam diseluruh dunia dan pedoman hidup umat islam hingga akhir zaman.
            Perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam meluaskan ekspansi besar-besaran untuk memperluas wilayah Daarul Islam sangat menarik perhatian cendikiawan muslim demi mengetahui secara eksplisit efek positif yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Pelabaran wilayah islam merupakan masa kejayaan umat islam yang lalu di teruskan oleh Khulafa ur Rasyidun, Bani Umayah, Bani Abbasiyah dan tiga kerajaan besar islam.
            Penyebaran agama islam yang dipelopori oleh Nabi Muhammad SAW dan diteruskan oleh pengikutnya dan umatnya sukses hingga mendapat tempat di setiap negara seluruh dunia diantaranya wilayah Asia Tengah, Asia Timur dan Afrika Utara. Perjuangan yang terus diperjuangkan dengan sejarah yang berhasil merubah kehidupan di dunia ini.
            Wilayah Asia Tenggara salah satunya Indonesia yang menjadi negara dengan umat islam terbesar di dunia mengalahkan wilayah Jazirah Arab. Ada 3 Teori yang menentukan masuknya islam di Indonesia akan tetapi dari semua teori tersebut masuknya islam di Indonesia melalui jalur perdagangan, karena jalur perdagangan adalah jalur yang sangat disenangkan oleh budaya arab yang senang berdagang.
            Hasil dari jalur perdagangan, pedagang yang datang dari arab melakukan perkawinan dengan masyarakat pribumi Indonesia dan melakukan islamisasi terhadap masyarakat pribumi yang dilakukan terus menerus, maka dari itu budaya islam di Indonesia tidak akan lepas dari budaya islam yang ada di wilayah Jazirah Arab maka dari itu budaya arab dan budaya Indonesia banyak mengalami akulturasi.
Betawi merupakan budaya hasil akulturasi dari berbagai budaya salah satunya budaya arab. Betawi dengan islam sangatlah erat hubungannya bagaikan darah dan nadi yang tidak bisa dilepaskan. Islam dan Betawi banyak meberikan sebuah nuansa kehidupan yang dapat merubah cara kehidupan umat islam terutama warga Batavia.
Betawi bukan berasal dari bahasa Arab. Namun, Betawi dalam pengertian Jakarta, memang terkait dengan Islam secara historis. Dulu, ketika pelabuhan Sunda Kelapa dijajah oleh Portugis, ada seorang ulama yang sadar dan mewarisi kepemimpinan Rasulullah SAW di bidang militer dan pemerintahan. Namanya Fatahillah. Ia mengumpulkan dan melatih pemuda-pemuda Islam di Cirebon.
Setelah itu, mereka ke Sunda Kelapa dan menyerang penjajah Portugis. Melalui perjuangan dengan penuh kesungguhan penjajah Portugis kalah. Setelah Sunda Kelapa berhasil direbut, didirikanlah sebuah kota yang namanya berasal dari Al-Qur’an. Umat Islam lah yang merebut Jakarta dengan darah dan senjata. Fatahillah yang pertama kali mendirikan Jakarta. Waktu itu, Islam sangat berpengaruh hingga meresap ke dalam kebudayaan Jakarta.
            Pangeran Jayakarta adalah putra Ratu Bagus Angke, juga bangsawan asal Banten. Ratu Bagus Angke alias Pangeran Hasanuddin adalah menantu Fatahillah atau Falatehan yang konon menantu Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, peletak dasar Kesultanan Cirebon dan Banten.
Pangeran Jayakarta mewarisi kekuasaan atas Jayakerta dari Ratu Bagus Angke, yang sebelumnya memperoleh kekuasaan itu dari Fatahillah, yang memutuskan pulang ke Banten (Banten Lama sekarang) setelah berhasil merebut pelabuhan itu dari Kerajaan Pajajaran pada pertengahan Februari 1527.
Pangeran Jayakarta-lah dengan keturunan wali songo (wali sembilan) yang diakui wali-yu-allah dengan melakukan kehidupan sehari-harinya dengan ajaran islam dan kebiasaan pribumi. Perjuangan menebar kebaikan untuk merubah umat islam khusunya di Jakarta tidak hanya berhenti pada Pangeran Jakarta akan tetapi banyaknya masyarakat asli pribumi Jakarta yang menuntut ilmu di Jazirah Arab.
Dengan banyaknya yang belajar kesana dan mempelajari kebudayaan arab maka dapat lebih menyempurnakan peradaban umat islam khususnya di Jakarta dan sekitarnya hingga saat ini sekarang dan juga banyak melakukan perkawinan dengan orang sana. Maka dari itu banyak wajah masyarakat betawi yang keturunan arab.
Peradaban, Ilmu Agama dan Kebudayaan yang banyak dipelajari oleh orang betawi yang belajar ke daerah Jazirah Arab banyak nama anak, cucu masyarakat betawi yang memadukan dengan bahasa arab yang diakui bahwa bahasa arab adalah bahasa Al – Qur’an seperti: Abdullah, Syafi’i, Abdul, Jamilah, Salamah, dll.
Begitu indah kehidupan masyarakat Indonesia yang sudah bertahun – tahun lalu menebarkan bukti keharmonisan dalam bersosilasasi terhadap satu sama lain yang dilengkapi atau dipatenkan melalui adanya Pancasila yang menjadi sumber segala sumber bernegara, bermasyarakat yang baik untuk warga Indonesia dengan tidak menghilangkan nilai-nilai luhur yang lama akan tetapi harus merespon mempersiapkan segala kesiapan menghadapi waktu yang terus berputar.



Oleh : Izhar Syafawy
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Fakultas Syariah dan Hukum
Jurusan Hukum Tata Negara

Sunday, January 1, 2017

KEARIFAN LOKAL BUDAYA BETAWI

                Betawi merupakan suku yang berasal dari Ibu Kota negara Indonesia, akan tetapi teritorial Betawi tidak hanya di Jakarta melainkan Bekasi, Tangerang, Depok, Bogor, Cikarang dan Karawang. Sebab dari itu berbagai macam perbedaan gaya dan lakon Masyarakat Betawi di setiap daerah berbeda-beda.
Betawi merupakan suku atas akulturasi beberapa bangsa seperti Cina, Arab dan Portugis, oleh karena dengan adanya perpaduan budaya bangsa tersebut diterima dan dilakukan secara terus menerus oleh primbumi dengan perpaduan setiap bangsa tersebut, Maka dari itu muncullah sebuah ciri khas Masyarakat Betawi atas akulturasi tersebut.
Berbagai macam kearifan lokal Masyarakat Betawi di setiap daerah memilki ketaatan masing – masing, akan tetapi perbedaan antara itu tidak membuat kesatuan Betawi hancur dan hilang justru menjadi sebuah keindahan, persatuan, kekeluargaan, dll antar sesama Masyarakat Betawi.
Muhammad Husni Thamrin seorang pejuang dari tanah Betawi yang berhasil mempersatukan pemuda Betawi dan mentanda tangani peristiwa sumpah pemuda kala itu. Perjuangan beliau merupakan sebuah bukti kekuatan, kekeluargaan, kehormatan Masyakat Betawi menjadi sebuah percontohan bagi pejuang dan penerus bangsa ini.
Masyarakat Betawi yang terkenal dengan kegigihannya menuntut ilmu agama hingga sampai negeri Arab sana. Menjadikan Masyakat Betawi penyebar syiar islam, bahkan orang betawi ialah harus islam karena islam dan betawi merupakan satu kesatuan bagaikan darah dan urat yang tidak boleh di tinggalkan sampai kapanpun.
Masyarakat Betawi yang terkenal juga kekuatannya dalam ilmu beladiri, menjadikan sebuah ciri khas Masyarakat Betawi, tokoh Pitung merupakan teladan bagi Masyarakat Betawi dalam menekunin bidang ilmu beladiri, akan tetapi ilmu beladiri dilengkapi kepandaian dalam mengaji merupakan sebuah kelengkapan pasangan yang terus di jaga oleh penerus bangsa Betawi khususnya.
Beladiri dan Islam merupakan sebuah perbedaan yang sangat amat jauh, oleh karenanya kedua hal itu adalah sebagai bentuk pondasi kecintaan kita terhadap Betawi, akan tetapi pada era Betawi zaman ini Masyakarat harus mengerti dalam bidang apapun agar terpihakan untuk betawi dan islam menjadi milik kita bersama.
Menurut sejarah bahwa asal muasal Betawi berasal dari kemenangan Kerajaan Fatahillah merebut kekuasaan Bangsa Portugis di daerah sunda kelapa atas kemenangan itu Kerajaan Fatahillah menamakan Batavia dan dilanjutkan perjuagan dari sejarah kerajaan Tarumanegara yang memiliki jejak sejarah Betawi di Sunda kelapa dan meyebar luas sekitarnya.
Sunda kelapa terletak di Jakarta, maka dari itu Masyarakat Betawi lebih mendominasi di daerah Jakarta bebeda di daerah sekitaran Jakarta. Perubahan faktor sosial banyak terjadi di Jakarta dengan sentuhan khas Masyarakat  asli Jakarta yaitu Betawi. Akan tetapi arus globilasasi yang terjadi era 2000-an yang banyak merubah tingkah laku atau faktor social Masyarakat Betawi khususnya yang berada di Jakarta.

Jakarta merupakan barometer Indonesia, segala sesuatu akan terjadi di Jakarta dari masalah politik, pemerintahan, perekonomian, dll. Pertarungan arus globilasasi yang dialami saat ini merupakan sebuah pertarungan pelestarian keaslian bangsa Indonesia khususnya DKI Jakarta yaitu Betawi. Jutaan manusia berdatangan ke Jakarta mengadu nasib dengan pertarungan arus globilasisai.
Lahirnya Perda No. 4 Tahun 2015 dan Pergub DKI Jakarta tentang pelestarian Budaya Betawi adalah bentuk kebanggaan Masyarakat Betawi sebagai tanda penghormatan kepada budaya betawi yang telah di lestarikan oleh orang tua dan sebagai bentuk legal budaya yang harus dilestarikan untuk semua Masyarakat yang berada di Jakarta demi terciptanya kekuatan budaya.
Kearifan lokal Di Jakarta yang sudah banyak terpinggirkan dengan masuknya budaya dari luar Indonesia yang mudah mempengaruhi penurus bangsa ini. Kekuatan dasar bangsa dan sebagai ciri khas setiap bangsa adalah menjaga kearifan lokal yang tidak boleh di lengserkan. Jakarta merupakan pusat munculnya dan mudahnya masuk budaya luar.
Gejala sosial yang terjadi di Jakarta sangat terasa dampaknya bagi Masyarakat asli Betawi di Jakarta khususnya. Pelestarian kebudayaan Betawi harus tetap di lestarikan walaupun pertarungan zaman bukanlah melawan secara fisik melainkan melawan dengan keaktifan, kecerdesan, paham teknologi dll dengan merawat tradisi budaya betawi dan merespon medodernisasi yang tidak boleh diabaikan.

Monday, September 19, 2016

Kuliah dan Organisasi Kemahasiswaan



 Hanya Sebuah Opini
Oleh : Izhar Syafawy (Ijal)
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Syariah dan Hukum, Jurusan Hukum Tata Negara

          Kuliah adalah sebutan akrab untuk para peserta didik tingkat tinggi atau yang sering disebut sebagai mahasiswa dalam proses kegiatan belajar mengajar. Kuliah merupakan jenjang paling tinggi dalam menempuh ilmu dengan memperoleh sebuah penghargaan sebuah gelar sarjana, akan tetapi sebagian mahasiswa banyak yang tidak mampu untuk menyelesaikan kuliah di kampus karena berbagai macam alasan.
          Sebagian mahasiswa banyak yang memperlihatkan atas prestasi mereka sebagai mahasiswa, akan tetapi ada pula sebagian mahasiswa hanya memamerkan identitas mereka sebagai mahasiswa tanpa mengenal dosa menjadi mahasiswa jika kalau ada. Oleh karena itu dinamika menjadi mahasiswa tidak seindah ketika sekolah masih menjadi siswa biasa bukan maha atas kesiswaanya.
          Peristiwa mahasiswa pada masa transisi dari era orde lama ke era orde baru atau reformasi untuk membantu menyelesaikan permasalahan bangsa dan rakyat Indonesia membuktikan bahwa perhimpunan mahasiswa untuk saling bergerak berjuang bersama berhasil dikabulkan dengan melalui kegiatan aksi atau demo yang didasari atas kemaslahatan bangsa Indonesia bukan kepentingan pribadi.
http://blogs.unpad.ac.id/donimandarta/files/2011/12/organisasi-new.jpg

          Adanya Peristiwa itu adalah sebuah cerminan untuk setiap mahasiswa untuk dapat menorehkan dirinya dalam mengabdi untuk negri, bermanfaat untuk negri, berhimpun bergerak berjuang bersama karena rakyat. Setiap langkah mahasiswa adalah harapan kemajuan bangsa untuk meneruskan perjuangan pejuang – pejuang bangsa yang telah memerdekakan bangsa dari penjajah, yang telah membangun untuk negri dan lain sebagainya.
          Tingkah perbuatan mahasiswa tidak hanya dilandasi di ruang kelas dengan diberikan materi oleh dosen terus pulang. Akan tetapi peran penting organisasi kemahasiswaan bisa menjadi sebuah wadah untuk mahasiswa untuk dapat berproses terbentuk jiwa kepemimpinan dan bekerja sama antar sesama anggota dalam melakukan sebuah kegiatan.
          Melalui proses berorganisasi dapat membuat mahasiswa tangguh dan siap menghadapi tantangan perubahan siklus sebuah bangsa. Penulis yakin setiap yang memimpin bangsa ini atau pemerintah tiak lepas dari peran mereka dalam beroganisasi dan kuliah yang tetesan keringatnya selalu basah dalam benak bahan bajunya.
          Terbentuknya kedewasaan setiap mahasiswa adalah menjadi tanggung jawab mereka dalam mendewasakan dirinya dengan memahami dinamika kehidupan dan menjadi seorang mahasiswa yang dilengkapi dengan aktivis organisasi. Setiap aktivis keorganisasian perannya dalam organisasinya sangat di perlukan dan di lengkapi dengan peran mereka ketika di dalam kelas.
          Keseimbangan dalam hidup harus diperhatikan tidak diinginkan hanya berpihak dalam satu sisi dalam hidup agar terciptanya insan yang berguna dalam hidup, keluarga, negara dan agama. Maka dari itu mahasiswa dan keorganisaan kemahasiswaan menjadi darah mendaging dalam setiap benaknya yang tidak bisa dikhianati hanya satu sisi saja.
         

Sunday, August 28, 2016

MAHASISWA HARAPAN BANGSA


coretan pojok malam hari di kampung Duren Sawit untuk mahasiswa baru 
semoga menjadi mahasiswa yang mengerti akan hakikatnya sebagai mahasiswa, Salam Mahasiswa!!
Mahasiswa adalah sebuah gelar tingkatan tertinggi peserta didik dalam menuntut ilmu, oleh karena itu setiap Mahasiswa dituntut untuk dapat mengeluarkan pemikiran, gagasan dan gerakan yang positif untuk kemajuan bangsa ini. Merdekanya Bangsa Indonesia tidak lepas peran dari dukungan pemuda, maka dari mahasiswa yang umurnya masih disebut sebagai pemuda sudah selayaknya harus bias berkntrobusi untuk kemajuan bangsa ini.
Jika kita melihat sejarah Indonesia 1945 dimana peran para pemuda bersemangat keras menyatukan ideologi antar sesama agar terwujudnya kemerdekaan bangsa dan terciptanya tatanan kepemimpinan orde baru. Pada 1997 Mahasiswa juga mendukung kinerja pemerintahan negara Indonesia yang otoriter untuk segara menurunkan jabatannya agar terciptanya tatanan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.
Bangsa Indonesia memerlukan sosok seperti Bung Hatta ketika beliau kuliah dibelanda, ketika Indonesia di jajah oleh kaum kolonialisasi dari Belanda akan tetapi sosok Bung Hatta mengkritiki itu semua dengan berpidato di depan teman-temanya. Jiwa Nasionalisme yang telah tumbuh sejak beliau jadi Mahasiswa di Belanda menjadikan beliau sosok mahasiswa yang cerdas, berani & kritis dan tidak takut di penjara jikalau ia melakukan sesuatu yang benar untuk bangsanya.
Begitu pula pada tatanan Mahasiswa sekarang harus menjadikan sosok bagi masyarakat agar suara rakyat dapat Mahasiswa bantu menyalurkannya aspirasi suara rakyat itu dengan tidak memandang matrelistis atau kapiltalisme. Jika Mahasiswa tidak bisa memberikan sesuatu usaha untuk Negara, Apa saja yang dilakukan selama menjadi mahasiswa. Gunakanlah masa Mahasiswa menjadi masa yang produktif untuk diri kita sendiri, keluarga, agam dan Negara.
http://www.si-pedia.com/wp-content/uploads/2014/12/Wisuda.jpg
Mahasiswa tidak boleh pasif, pesan bapak Anies Baswedan ketika ia masih menjabat jadi Rektor di suatu kampus swasta di Jakarta“jadilah mahasiswa yang aktif, aktif di ruang kelas tapi tidak aktif di luar kelas, aktif di luar kelas tapi tidak aktif di dalem kelas, maka dari itu aktif di ruang kelas dan aktif di dalem kelas” inti yang dapat penulis simpulkan adalah sebagai Mahasiswa bisa mendewasakan diri dengan mengatur waktu Karena kuliah penting dan organisasi juga penting maka dari itu menjalankan keduanya sama-sama penting pula.
Bahkan soekarano sangat memuliakan sekali kaum pemuda, pemuda sekarang adalah bangsa yang akan datang, maka dari itu jadilah pemuda mahasiswa yang mengerti akan identitas mahasiswanya bukan hanya gelar pamer ke masyarakat. Salam Mahasiswa, Salam Perubahan

Monday, June 27, 2016

ASPEK BUDAYA BETAWI PADA PEKAN RAYA JAKARTA 2016



ASPEK BUDAYA BETAWI
PADA PEKAN RAYA JAKARTA 2016


Oleh: Izhar Syafawy
Mahasiswa UIN Jakarta Jurusan Hukum Tata Negara/Anggota Forum Komunikasi Mahasiswa Betawi (FKMB)

Jakarta International Expo (JI Expo) berhasil menyelenggarakan Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2016 atau Jakarta Fair (JF) yang selalu diselenggarakan untuk menyambut dan memeriahkan Hut DKI Jakarta setiap tanggal 22 Juni. PRJ atau JF bukan lagi hal yang asing bagi masyarakat Indonesia bahkan negara ASEAN pun sudah mengetahui perayaan pasar tahunan terbesar yang selalu ada untuk menyambut dan memeriahkan Hut DKI Jakarta.
PRJ atau JF akan terus mengembangkan eksistensinya demi membanggakan Indonesia khususnya Indonesia pada sisi perekonomian bangsa dikarenakan pada pagelaran tersebut bisa membantu untuk peningkatan yang lebih baik dalam hal ekonomi bangsa Indonesia. JI Expo merupakan lembaga swasta yang dibawah naungan pemeritah daerah Provinsi DKI Jakarta yang setiap tahunnya selalu bekerja sama untuk menyambut Hut DKI Jakarta.
PRJ atau JF banyak menyimpan sejarah bagi warga Jakarta, sejarah yang harus selalu dikembangkan setiap masanya. PRJ yang bermula dari hanya pasar malam rakyat untuk warga Jakarta pada tahun 1898 yang diselenggarakan di Lapangan Gambir (Sekarang Monas) oleh pemerintahan zaman Belanda pada waktu itu. Acara yang bermula hanya menghibur warga Batavia akan tetapi banyak mengunggah perhatian Dunia. 
Akan tetapi PRJ atau JF yang dulu dikenal dengan sebutan DF (Djakarta Fair) lambat laun berubah dengan perkembangan bahasa dan budaya di Indonesia maka ejaan lama itu disempurnakan dengan Jakarta Fair. JF begitu familiar ditelinga warga Jakarta karena acara yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya itu menjadi ajang kebanggan warga Jakarta khususnya
PRJ atau JF baru diresmikan oleh pertama kali oleh Presiden Soeharto pada 1968 dengan melepas burung merpati pos. Kegiatan yang bermula hanya pasar rakyat menjadi pasar internasional berkat Ide yang dituangkan oleh salah satu ketua KADIN (Kamar Dagang dan Industri) pada masa pemeritah gubernur Ali Sadikin yaitu Syamsudin Magan yang akrab disapa Haji Mangan.
Semakin kelihatan eksistensi PRJ atau JF maka semakin semangat pemerintah daerah DKI Jakarta membuat aturan bahwa PRJ atau JF wajib dilaksanakan setiap tahunnya untuk menyambut dan memeriahkan Hut DKI Jakarta dengan ketetapan Peraturan Daerah (Perda) no. 8 tahun 1968 antara lain isinya adalah bahwa menetapkan bahwa PRJ akan menjadi agenda tetap tahunan dan diselenggarakan menjelang Hari Ulang Tahun Jakarta yang dirayakan setiap tanggal 22 Juni.
PRJ atau JF memang selalu ada setiap tahunnya dengan sentuhan khas dari masa ke masa demi menggali pengunjung seluruh Dunia, khususnya masyarakat Indonesia untuk berkunjung pada pasar tahunan itu dalam mempringati hari lahir Ibu Kota Indonesia. Maka dari itu eksistensi PRJ atau JF selalu dikembangkan agar dapat menjaga kepercayaan masyakarat.
Masyarakat Betawi tidak akan lepas darah dagingnya dengan Jakarta walaupun Masyarakat Betawi tidak hanya di Jakarta akan tetapi asal mula nenek moyang mereka pernah tinggal di Jakarta. Jakarta dan Betawi bagaikan anggota terpenting dalam tubuh manusia yang selalu dijaga dan dirawat, jika salah satunya dihilangkan akan lenyaplah itu semua.
Budaya Betawi sudah menjadi hak paten budaya yang dimiliki oleh DKI Jakarta, sudah seharusnya bagi kita warga Jakarta yang memiliki KTP domisili DKI Jakarta dan Masyarakat Betawi yang tinggal di sekitar Jakarta untuk menjaga, melindungi dan mengembangkan budaya Betawi asli Jakarta sesuai dengan Perda DKI Jakarta Tahun 2015 Pasal 1 No. 9-13.
Maka dari itu dengan diberlakukannya Perda tersebut dapat dijalankan dan disosialisasikan agar masyarakat mengerti makna itu semua oleh sebab itu tidak hanya pemerintah yang bekerja keras untuk membangun akan tetapi masyarakat wajib ikut serta berkontribusi oleh karenanya akan terwujud cita-cita bangsa yang ada pada pancasila.
PRJ yang setiap tahunnya selalu banjir pengunjung dari berbagai elemen dunia sudah seharusnya menjadi kebanggan pemerintah daerah DKI Jakarta khususnya Masyarakat Jakarta dan Betawi untuk dapat mengembangkan budaya Betawi pada agenda akbar tersebut akan tetapi PRJ atau JF belum bisa berkontribusi banyak untuk Betawi. Entah siapa yang salah?
Sudah seharusnya PRJ atau JF dapat mengembagkan budaya Betawi karena itu adalah suatu wadah yang sangat baik untuk kemajuan budaya Betawi. PRJ atau JF tidak seharusnya mementingkan stand-stand perusahaan dengan brand terkenal saja akan tetapi jika PRJ atau JF bisa mengembangkan budaya Betawi dan Pasar Tahunan itu akan terasa lebih harmonis bagi Masyarakat Jakarta dan Betawi.
Bagi Penulis mengembagkan budaya Betawi pada agenda akbar tersebut dan memeriahkannya dengan diadakannya stand-stand perusahaan dengan brand terkenal adalah bagian yang tidak boleh dilepaskan dan hilangkan karena pasar tahunan yang ada sudah lama itu harus dikembangkan dan dikemas dengan kebudayaan Betawi maka dari itu akan timbulah rasa simbosis mutualisme.
Kontribusi pihak panita penyelenggara PRJ atau JF sudah seharusnya dapat mementingkan terhadap kebudayaan asli lokal Jakarta. Sentuhan budaya Betawi pada PRJ atau JF yang kalah dengan yang lain membuat penulis miris dengan hal itu semua. Sangatlah ditungu-tunggu oleh masyarakat Betawi khususnya karena untuk apa ada agenda besar yang ada di Jakartadalam menyambut Hut DKI Jakarta tidak bisa memberikan sentuhan budaya dari daerahnya sendiri. Siapa yang salah?